Monday, November 17, 2014

Semangat para pemuda Indonesia dalam memajukan Pasar Modal Indonesia, serta dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan informasi yang benar dan tepat tentang investasi, Rois Feb Unila bekerjasama dengan PT. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengadakan sosialisasi dan edukasi Pasar Modal kepada masyarakat. Sekolah pasar modal yang di angkat oleh Rois Feb Unila adalah Sekolah Pasar Modal Syariah.

Mengingat pemahaman masyarakat tentang pasar modal syariah saat ini masih belum merata dan masih banyak yang belum memahami bagaimana cara berinvestasi di pasar modal syariah, maka PT. BEI menyelenggarakan Sekolah Pasar Modal Syariah (SPMS) yang diharapkan dapat menampung, merangsang, dan mengarahkan animo masyarakat yang berminat untuk menekuni pasar modal syariah level 1 sebagai media investasinya. Acara sekolah pasar modal syariah bertema “Peran dan Tantangan Pasar Modal & Ekonomi Syariah dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015” ini berlangsung di Auditorium Perpustakaan Universitas Lampung, Senin (17/11)

Acara yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai kampus di Sumatera Bagian Selatan ini dibuka langsung oleh Prof. Dr. Hi. Satria Bangsawan, S.E., M.Si selaku Dekan FEB Unila yang dimulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. Sekolah Pasar Modal Syariah Level 1 menghadirkan pembicara, Doddy Prasetya Ardhana, S.E., M.M bagian unit edukasi pasar modal syariah yang menyampaikan materi tentang pengenal pasar modal syariah di Indonesia. Selain itu menghadirkan hadir pula, Dr. Yulizar D Sanrego perwakilan dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia yang menyampaikan materi tentang prinsip dasar fikih muamalah.

Yulizar sangat menekankan pentingnya transaksi di dalam kehidupan menggunakan prinsip syariah agar hidup semakin bernilai berkah. Hal ini terbukti bahwa ekonomi syariah sangat cocok digunakan oleh berbagai masyarakat dari berbagai golongan.  Dalam penyampaiannya, Yulizar D Sanrego Inggris yang mayoritas masyarakat non muslim memiliki institusi syariah terbanyak di dunia. Bahkan, Inggris menjadi pusat ekonomi syariah di Eropa.

Ketua Rois FEB Unila Singgih Syamsuri, mengatakan Sekolah Pasar Modal Syariah Level 1 merupakan serangkaian kegiatan Rapat Kerja Regional (RAKEREG) Se-Sumatera Bagian Selatan (Se-Subagsel) dari Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) Forum Studi Ekonomi Islam.

Pada dua hari sebelumnya juga, Sabtu dan Minggu telah dilaksanakan rapat kerja Regional dan field trip yang di ikuti mahasiswa dari lampung khusunya mahasiswa Universitas Lampung, dan juga diikuti oleh mahasiswa Bengkulu dan Sumatera Selatan Acara rapat kerja regional merupakan acara rutin setiap tahunnya bertempat di salah satu instansi atau universitas-universitas yang ada di sumatera bagian selatan, acara rutin ini di gagas oleh Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam. Ketua Umum Rois Feb Unila, Singgih Samsuri mengatakan “Kita harus berusaha untuk menegakkan ekonomi syariah di Indonesia. 

(Khoiruddin)

Saturday, November 15, 2014

Agenda yang disiapkan selama satu bulan yang lalu, RAKEREG Rapat Kerja Regional FoSSEI se-SUBAGSEL . RAKEREG pada Sabtu, 15 November 2014, dan akan dilaksanakan Field Trip pada esok hari, 16 November 2014. Dan juga akan ada Sekolah Pasar Modal Syariah (SPMS) di hari Senin, 17 November 2014.

Peserta Rapat Kerja yang diadakan di ICMI Islamic Centre berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan. Peserta RAKEREG berasal dari 3 Provinsi, Provinsi Bengkulu, Provinsi Sumatra Selatan dan Provinsi Lampung. Tiga Provinsi terdapat nama KSEI-KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam)
, diantaranya:
1. KSEI Universitas Bengkulu
2. KSEI IAIN Bengkulu
3. KSEI STAIN Curup Bengkulu
4. KSEI UIN Raden Fattah Palembang
5. KSEI STAIN Metro
6. KSEI IAIN Raden Intan Lampung

Selain Rapat Kerja juga ada sesi diskusi dan tanya jawab serta presentasi dari masing-masing KSEI se-SUBAGSEL. Dan juga sesi yang terakhir ada foto bersama.
Mudah-mudahan Rapat Kerja yang sudah berlangsung mendapatkan keputusan yang mufakat dan menjadikan ajang silaturahim antara KSEI se-SUBAGSEL. Aamiin

Thursday, November 13, 2014

TERDAHSYAT dan TERBARU....
Departement Syiar Islam (SI) Rois Feb Unila dengan Bidang Kajian&Strategi (KASTRAT) Fspi Fisip Unila adakan kajian bereng.
Rabu, 19 November 2014
Pukul 15.45 WIB
Di lapangan FEB Unila 


Menghadirkan pemateri yang luar biasa, sesosok penulis yang luar biasa yang insya Allah menginspirasi dan bermanfaat bagi kita semua.

Ayo ikuti dan ramaikan.
Jangan sampai ketinggalan.
Ajak temen-teman yang lain.

Saturday, November 8, 2014


Assalamu'alaikum Wr.Wb

UKMF ROIS & BSO KSEI FoSEIL UNILA mempersembahkan:
Ini dia saatnya merubah dunia dengan mengikuti Sekolah Pasar Modal Syariah (SPMS) dengan pemateri yang sangat luar biasa, mendatangkan pakar-pakar investasi syariah. 
Ayo ikut !!!
Daftarkan diri anda dengan ketik:
NAMA_JURUSAN_ASAL INSTANSI
Kirim ke:
Ikhwan (0819 0636 6165)
Akhwat (0896 9580 4643)

HTM:
Untuk UMUM Rp15.000/peserta
Untuk MAHASISWA Rp10.000 /peserta
Dengan fasilitas: Ilmu bermanfaat, Lunch, Sertifikat snack dan Full AC.

NB: Batas pendaftaran Rabu 16 November 2014
Kurang paham bisa konfirmasi lebih lanjut ke CP yang sudah tertera. 

Wednesday, November 5, 2014

Setelah resmi diumumkan Ahad, 26 Agustus 2014, menteri-menteri kabinet Pres-Wapres Jokowi-Jusuf Kalla dan langsung dilantik pada Senin, 27 Oktober 2014. 

Berikut nama-nama menteri dalam kabinet Jokowi-JK:

1.    Menteri Sekretaris Negara: 

       Prof. Dr. Pratikno (Rektor UGM)
2.   Kepala Bappenas:
      Andrinof Chaniago (Ahli kebijakan publik dan anggaran)
3.  Menteri Kemaritiman:
      Indroyono Soesilo (Praktisi)
4.  Menko Politik Hukum dan Keamanan: 
     Tedjo Edy Purdjianto (Mantan KSAL)
5.   Menko Perekonomian:
      Sofyan Djalil (ahli ekonomi)
6.   Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: 
      Puan Maharani (PDIP)
7.   Menteri Perhubungan:
       Ignatius Jonan (Dirut PT KAI)
8.   Menteri Kelautan dan Perikanan: 
      Susi Pudjiastuti (Wirausahawati)
9.   Menteri Pariwisata:
       Arief Yahya (Profesional)
10. Menteri ESDM: 
      Sudirman Said
11. Menteri Dalam Negeri:
      Tjahjo Kumolo (PDI Perjuangan)
12. Menteri Luar Negeri:
       Retno Lestari Priansari Marsudi (Dubes RI di Belanda)
13. Menteri Pertahanan:
       Ryamizard Ryacudu (mantan KSAD)
14. Menteri Hukum dan Ham:
       Yasonna H.Laoly (PDI Perjuangan)
15. Menkominfo: 
       Rudi Antara (profesional)
16. Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: 
       Yuddy Chrisnandi (Nasdem)
17. Menteri Keuangan:
       Bambang Brodjonegoro (ekonom)
18. Menteri BUMN : 
       Rini M.Soemarno (mantan Ketua Tim Transisi/mantan menteri perindustrian)
19. Menteri Koperasi dan UMKM: 
       Puspayoga
20. Menteri Perindustrian: 
       Saleh Husin (Hanura)
21. Menteri Perdagangan:
       Rahmat Gobel (profesional)
22. Menteri Pertanian:
       Amran Sulaiman (praktisi)
23.  Menteri Ketenagakerjaan:
       Hanif Dhakiri (politisi)
24.  Menteri PU dan Perumahan Rakyat: 
        Basuki Hadimuljono (birokrat)
25.  Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: 
        Siti Nurbaya (Nasdem)
26.  Menteri Agraria dan Tata Ruang: 
        Ferry Musyidan Baldan (Nasdem)
27. Menteri Agama: 
       Lukman Hakim Saifudin (PPP)
28.  Menterni Kesehatan:
        Nila F Moeloek (profesional)
29.  Menteri Sosial:
        Khofifah Indra Parawansa (tokoh Muslimah NU)
30.  Menteri Pemberdayaan Perempuan dan anak:   
        Yohanan Yambise
31.  Menteri Budaya Dikdasmen:
        Anies Baswedan (mantan Tim Transisi)
32.  Menristek dan Dikti:
       M.Nasir (Rektor Undip)
33.   Menpora:
       Imam Nahrawi (politisi)
34. Menteri PDT dan Transmigrasi: 
       Marwan Jafar (PKB)

Dikutip dari Blogger: Triska Damayanti


Tuesday, November 4, 2014

Inilah fase-fase sejak malam pertama masuk ke liang kubur hingga 25 tahun.
Malam Pertama - Di kuburan pembusukan dimulai pada daerah perut dan kemaluan. Subhanallah, perut dan kemaluan adalah dua hal terpenting yang anak cucu Adam ini saling bergulat dan menjaganya di dunia. Dua hajat, yang karenanya Allah azza wa jalla membuat manusia merugi di dunia akan membusuk pada malam pertamanya di kuburan. Setelah itu, mulailah jasad berubah warna menjadi hijau kehitaman. Setelah berbagai make up, dan alat-alat

Malam Kedua - Di kuburan, mulailah anggota-anggota tubuh membusuk seperti: limpa, hati, paru-paru dan lambung.

Hari Ketiga - Di kuburan, mulailah anggota-anggota tubuh itu mengeluatkan bau busuk tidak sedap.

Seminggu Setelahnya - Wajah mulai tampak membengkak, dua mata, kedua lisan dan pipi.

Setelah 10 hari - Tetap terjadi pembusukan pada kali ini pada anggota-anggota tubuh tersebut, perut, lambung, limpa..

Setelah 2 Minggu - Rambut mulai rontok

Setelah 15 Hari - Lalat hijau mulai bisa mencium bau busuk dari jarak 5 km, dan ulat-ulat pun mulai menutupi seluruh tubuhnya

Setelah 6 Bulan - Yang tersisa hanya rangka tulang saja.

Setelah 25 Tahun - Rangka tubuh ini akan berubah menjadi semacam biji, dan di dalam biji tersebut, kita akan menemukan satu tulang yang sangat kecil disebut ‘ajbudz dzanab (tulang ekor). Dari tulang inilah kita akan dibangkitkan oleh Allah azza wa jalla pada hari kiamat.

Inilah tubuh yang selama ini kita jaga. Inilah tubuh yang kita berbuat maksiat kepada Allah dengannya. Oleh karena itulah, jangan biarkan umur kita melewati jasad ini sia-sia, karena dia akan mendapatkan apa yang telah disebutkan. Mudah-mudahan kita yang senantiasa menjaga tubuh ini diberikan keselamatan dari penjagaan Allah dan dilindungi akan kejamnya siksa kubur kelak.
Aamiin Allahumma Aamiin

Di kutip dari inspirasi: Ustadz Yusuf Mansyur

Monday, November 3, 2014


Sore itu terik terasa, tak seperti biasa. Ternyata sang mentari masih istomah menyinari bumi dengan kehangatannya. Inilah dia perkumpulan orang-orang yang Insya Alloh dirindukan Malaikat para penghuni lagit dan ikan-ikan yang ada dilautan. Terpatri bahwa itu Lembaga Dakwah.

Seorang Ustad duduk di beranda mushola. Ya ustad Andre namanya atau biasa di panggil kak Andre. Mencoba membaringkan tubuhnya yang begitu letih dan mencoba mensyukuri kehangatan fajar yang mulai meredup. Seperti biasa dengan bahasa diamnya, tak banyak berkata. Sungguh diamnya sang Ustd membuat sejuata pertanyaan dan presepsi bagi khalayak ramai.

Dihampirinya kak Andre oleh salah seorang yang bernama Usup. Giat dalam berdakwahya membuat Aktivis lain terkagum dengannya. Memang Usup adalah anak yang memiliki Ghiroh (semangat)  dalam berdakwah, hampir seluruh hidupnya ia fokuskan dan nyeburkan langsung dalam Dakwah. Baginya dakwah segala-galanya. Ia cerdas, pandai, dan cekatan.
Usut punya usut ternyata Usup menyimpan unek2 dan pertanyaan yang menggelayut di fikirannya. Ia mulai kelelahan dalam mengarungi bahtera dakwahnya dan menyadari betul bahwah Usup semakin lama semakin letih karena kak Andre yang biasanya selalu membantunya dalam berdakwah, menyusun strategi dalam kegiatan, memberikan masukan dan nasehat, mulai tak nampak lagi.
Usup menyapa, ”kak saya dulu merasa bersemangat dalam berdakwah.  Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah semakin kering. Kekompakan tak lagi terlihat. Dan bahkan ane melihat atum tak lagi seperti dulu kak”. Potong  Usup dikalimatnya “Tapi sebelumnya ane minta maaf dulu sama antum kak”.

“Ya lanjut aja akhi”. Jawabnya. “Belakangan ini ane melihat antum seperti tidak lagi perduli dengan dakwah kita ini. Ane sedikit kecewa dengan sikap antum yang semakin hari tak tampak dan diam seribu bahasa dan seolah seperti tak lagi mau tau atas apa yang telah di programkan dalam dakwah ini!?
Antum kemana aja?
jarang dateng suro?
gak pernah kumpul?
Kak andre terus diam dan mencoba terus menggali kecamuk dalam diri Usup. Ya tanpa sepatahkata pun hingga Usup pun terdiam. “lalu langkah apa yang antum inginkah?” sahut kak Andre.
“Ane ingin kita itu sama-sama lagi dalam berdakwah dan tak ada lagi program dakwah yang mandek dan tak terealisasikan”.

Kak Andre hanya diam saja. Tak tampak raut wajah terkejut atau wajah memberikan jawaban. Sorot matanya tetap sayu. Seakan membiarkan semuanya terjadi. Selang beberapa lama kak Andre angkat bicara dengan nada terputus-putusnya ia katakan “wasbir akhi (Sabar sudaraku), inilah dakwah dengan segala lika-likunya dan setiap marhalah (tingkatan) itu ada masalahnya”.
seakan tak memberikan jawaban Usup pun mencoba meninggalkan dengan kak Andre dengan raut kecewa.

Dalam ketidak tahuannya Usup, kak Andre mencoba membuat surat agar tabayunnya dapat memberi titik temu dan jawaban.
sampainya surat langsung di baca oleh si Usup.


Assalamualaikum akhi fillah...
semoga selalu dalam lindungan Alloh, tak lupa kita berdoa untuk langkah  dakwah ini agar selalu diRidhoi oleh sang Rabbul Izzati.

Maafkan daku akhi fillah Usup, ana tertegun. Sungguh masih terus menggantung rasa bersalah ana di hati, dan menjadi ganjalan dalam hati atas pertanya-pertanyaan atum dan kegelisahan antum atas sikapnya ana selama ini. Barakallah atas tegura atum terhadap ana. Artinya masih ada yang perduli dengan perjalanan dakwah ini.

Akhi fillah kenapa ana tidak menjawab saat antum bertanya diwaktu yang lalu, karena ana takut dalam memberikan jawaban nantinya kepada antum dapat memunculkan presepsi bahwa ana mengeluh dalam berdakwah ini. Karena sejatinya, lisan ini bisa membuat petaka yang kita tidak sangka-sangka. Ada pesan Rasulullah yang selalu terjaga dalam batin ini “kasrat kalam kasrat kizb” ya banyak berbicara itu akan banyak memunculkan kesalahan.

Akhi fillah bukan ana menghindar dari antum, tidak! sama sekali tidak!. Ana ingin mengutip sebuah kisah, barangkali ini dapat menjadi perbincangan awal kita dalam bertabayun. Tetapi sungguh ana katakan ‘jikalau tubuh ini mampu untukdibagi-bagi, maka ana akan lakukan agar tidak ada lagi amanah yang terzolimi’. Ya, ana tak mampu mengatakannya, maka ana menuliskan surat ini. Karena keterbatasan ekspresi ana tak dapat menjelaskan semuanya.

Dikisahkan ada seorang mad’u yang megeluh terhadap murabbinya di suatu malam yang sunyi, tepatnya ketika mereka melaksanakan mabit. Sang mad’u mengatakan di hadapan murabbinya “ana ingin berhenti saja, keluar dari Organisasi ini. Ana kecewa dengan beberapa ikhwah yang jika diberi amanah dalam berdakwah pada akhirnya kacau, segala yang ia lakukan menjadi beban. Selalu ana yang bergerak sendiri, Ana kan kiyadahnya di suruh kadang mala-malasan bahkan kadang membantah ucapan ana. Jika terus begini ana ingin sendiri saja”.

Sang murabbi termenungkembali, tidak tampak raut wajah terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya seakan terlihat tenang dan seakan jawaban itu memang sudah diketahui sejak awal.
“akhi, bila suatu waktu antum menaiki sebuah kapal dilaut lepas. Kapal itu ternyata sudah amat bobro. Kabinnya tak layak, layarnya sudah pada bolong, kayunya banyak yang keropos yang lebih dikejutkan lagi kapal tersebut berbau kotoran manusia. Lalu apa yang antum lakukan untuk sampai ke tempat tujuan diseberang sana?”. Tanya sang murabbi yang kiasan makna yang dalam.

Sang mad’u berfikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam dengan kiasan yang amat tepat. “apakah antum akan terjun ke laut dan berenang sendiri sampai ketujuan?”. Murabbi memberikan opsi.
“Bila antum terjun ke lautan sesaat antum merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, senang bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu pun hanya sesaat, berapa kekuatan antum untuk berenang di lautan lepas hingga mencapai tujuan? Bagaimana bila ikan Hiu datang? Dari mana antum mendapatkan makan dan minum? Bila malam datang bagaimana antum mengatasi hawa dingin yang menusuk tubuh?” Berderet pertanyaan dihamparkan kepada sang mad’u.

Tak ayal. Tetesan itu jatuh juga dari sang mad’u, seperti goncangan jendela yang tak kuat lagi menahan kaca yang ingin lepas. Sang mad’u tersedu. Tak kuasa hatinya menahan kegundahan sedemikina. Kekecewaannya sudah kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormati justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.
“Akhi apakan antum masih merasa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama dalam mencapai Mardotillah (Ridho Alloh)?” pertanyaan menohok ini menghujam di jiwa mad’u. Ia hanya mengangguk saja. “bagaiman jika mobil yang antum kendarai dalam sebuah perjalanan tiba-tiba mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu ditengah jalan, atau antum akan memperbaikinya? Pungkas pertanyaannya.
sang mad’u makin terdiam dalam sesenggukan tangisannya perlahan.

Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, "Cukup ustadz, cukup. Ana sadar. Maafkan ana. Ana akan tetap istiqamah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan..."
"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Ana akan tetap berjalan dalam dakwah ini. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana", sang mad'u berazzam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya.

Sang murabbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi di balik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah."
"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."

"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu, maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.

"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah."

"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!" Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya.
Tapi bagimana ana bisa memperbaiki Organisasi ini dengan baik, sememtara ucapan ana jarang didengar, tak ada kekompakan? sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.

“siapa bilang mereka, tak mendengarkan atum? Apa mereka meninggalkan antum? Atum di beri amanah kepada mereka sebagai kiyadah karena mereka tau kapasitas antum. Termasuk juga mereka memiliki kapasitas masing-masing. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!" sahut sang murabbi. "Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil (dengki, benci, iri hati) antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya." Suasana dialog itu mulai mencair.


Akhi fillah Usup sungguh ana menuliskannya dalam rasa bersalah. Dan bendungan itu tak kuasa menahan kejolak genangan yang telah ditahan, akhirnya sesekali menetes . Tapi inilah ana dengan segala keterbatasan insaniyah. Maafkan ana yang belum bisa seperti Ust Hasan Al Banna dalam berdakwah, yang mobitas dalam berdakwahnya tak diragukan lagi. Yang mampu memberikan daurah di sekian Ratus klometer dari tempat tinggalnya, dan paginya ia sambung di tempat lain dengan kuliah subuh, dan di rasutusan kilometer lagi ia memberikan liqo kepada masyarakat dan dapat memberikan pengaruh yang besar bagi shabab (pemuda) yang dijumpai.

Akhi fillah Usup maafkan ana jika ana terlalaikan dalam amanah yang atum berikan, jarang hadir dalam suro, diam seribu bahasa. Sekali lagi ana katakan ‘jikalau tubuh ini mampu untuk dibagi-bagi, maka akan ana lakukan agar tidak ada lagi amanah yang terzolimi’. Akhi fillah dalam diamnya ana bukan ana tak memikirkan dakwah kita hanya saja di tempat lain ada amanah yang lebih membutuhkan ana. Sesungguhnya ana ingin sekali kita berkumpul bersama membahas PR-PR dakwah kita. Tetapi saat ini ana mulai di di hamparkan sebuah amanah yang itu ana harus memikirkannya matang-matang, karena ana menjadi kiyadah disana. Sama seperti antum memimpin insaniyah juga. Bahkan ana harus sesering kali melihat perkembangan dakwah di Universitas lain dan itu bukan satu dua. Terlebih Universitas yang berada di daerah-daerah dan bukan atum saja yang ana tinggalkan lebih buruknya meninggalkan jam perkuliahan. Dan ana harus dihadapkan untuk mengikuti Rapat kerja-kerja Dakwah di luar Propinsi, menyusun bagaimana kestabilan dakwah di setiap daerah harus terjaga, menyiapkan sumberdaya manusia yang mempuni.

Akhi fillah Iman ini agaknya bukan bongkahan batu karang yang tegak kokoh, dia hidup bagai cabang menjulang dan dedaunan rimbun selalu tumbuh, dan menuntut akarnya, menggali kian dalam, juga merindukan cahaya mentari, embun, dan udara pagi.
Tak banyak yang bisa ana ceritakan. Ini pun hanya sekedar tabayun terhadap kita. Ada Amniyah (Rahasia) lain yang belum ana bisa katakan kepada antum. Nanti sekiranya, amtum sudah faham dengan semua ini maka antum akan mengetahuinya sekalipun tanpa ana kisahkan. Karena bagi ana menunaikan amalan disaksikan Allah itu melegakan bagi jiwa. Tak perlu semuanya tau.
fahamilah kita ini bukan perkumpulan orang-orang yang menganggur, mengatur dengan jari telunjuk, bukan! Itu bukan kita!. Kita itu ‘
Nahnu Du'aatun Qabla Kulli Syai'in’ ya tidak bisa di pungkiri kita ini da’i sebelum menjadi apapun. Sebenarnya banyak tuntutan seorang du’at di mana2 jika kita mau berfikir.

Akhi fillah bukan ana ingin menjauh dari amanah ini. Sungguh ini mungkin kurangnya ana dalam memenejemen setiap langkah. Ana yakin antum sudah lebih Ber-kafaah dalam dakwah ini.

Akhi fillah banyak sekali masalah ikhwah dimanapun Harokahnya, akhi di saat antum tidak menggambil bagian dari dakwah in,i maka banyak ikhwah yang menangi, disaat ia menggendarai motor, ia berani menangis karena wajahnya tertutupi helm. Ia menangis karena tak kuat menahan amanah dakwah ini, akhi disaat antum kecewa dengan orang yang dulunya engkau percaya, ikhwah lain sebenarnya lebih banyak kecewa darimu. Tapi ia selalu senantiasa untuk merajut kembali jalan dakwah ini, dan tetap bertahan. Karena mereka sadar ‘kekecewaan adalah hal yang manusiawi tapi dakwah harus selalu terukir dalam Hati’.

Akhi fillah disaat atum kecewa dengan beberapa amanah yang tak dijalankan. Sebenarnya ikhwah lain diluar sana ada yang lebih kecewa dan alasan yang kuat dan berkali-kali lipat dari antum. Tetapi mereka sadar akhi akan tujuan hidup yang sebenarnya. Mereka memang punya banyak alasan, tetapi mereka tidak beralasan dalam jalan dakwah. Untuk Alloh, Demi Alloh. Mereka disaat lelah yang sangat masih menyempatkan diri untuk bangun dari tidurnya menengadahkan tangan dihadapan Rabb-Nya. Bukan untuk meminta sesuatu akhi. Tetapi mereka menangis, curhat ke Alloh, berharap Alloh meringankan Amanah mereka, mengisi perut yang kosong karna uang yang habis untuk membiayai dakwah.

Akhi fillah. Sungguh dakwah ini jalan yang berat, jalan yang terjal. ‘Dakwah ini bukan sebatas teori tapi pengalaman dan pengamalan akhi’. Tidak ada kata ” jadilah” maka akan terjadi. ‘Yang ada adalah “jadilah” lalu antum bergerak untuk  menjadikannya akhi’.itulah dakwah. Ilmu yang kau jadikan ia menjadi.

Akhi fillah jika saudaramu menangis setiap hari bolehkah mereka meminta bantuanmu. Meminjam bahu mu. Dalam berkumpul dan berjuang bersama-sama agar mereka dapat menyimpan butiran tangisnya untuk berterimakasih kepadamu. Juga untuk tangis haru saat mereka bermunajat kepada Alloh.

Akhi fillah terimakasih. Maafkan daku yang fakir ilmu ini. Tentu segala luka dan kecewa tampak kan malu dan meniada. Ketika kita insyafi bahwa Alloh Yang Maha Mengatur tak pernah keliru dan tak pernah Aniayah. Smoga bisa jadi nutrisi untuk jiwa kita... Aamiin.



ditulis oleh: Andi Wirman Moeslem (Anggota Humas Rois Feb Unila)

Ingat waktu

Categories

Comments

Pages

Selamat Anda Pengunjung ke

Popular Posts

Hikmah Bersaudara

facebook