Sunday, November 2, 2014

SUATU ketika, Hujjatul Islam, Syeikh Ibnu Taimiyah sedang berbicara dengan kelompok penganut Bathiniyah – sebuah gerakan sufi sesat.
“Apa yang ada padamu sebenarnya Ibnu Taimiyah? Bila kami datang pada kalian, yakni Ahlus Sunnah, wibawa kami luntur, tapi bila kami pergi ke Tartar -Mongolia yang kafir itu—wibawa kami justru muncu.
Ulama penghafal Quran, yang dikenal menguasai ilmu fiqih, hadits, tafsir dan ilmu ushul ini kemudian menjawab ;
 
“Tahukah kalian, perumpamaan antara kami, kalian dan orang-orang Tartar itu? Kami ibarat kuda-kuda berwarna putih, kalian ibarat kuda-kuda berwarna belang-belang, sedangkan orang Tartar itu ibarat kuda hitam. Jika yang belang masuk ke dalam kelompok yang hitam, maka seakan-akan berwarna putih, dan jika berkumpul dengan yang berwarna putih, maka seakan-akan berwarna hitam. Kalian masih sedikit cahaya. Jika kalian datang pada kami –orang-orang yang memiliki cahaya terbesar dan Sunnah—maka tampaklah kegelapan dan warna hitam yang ada pada kalian. Demikianlah perbandingan antara kami dan kalian, kami dan orang-orang Tartar itu.”.
A. Keutamaan Bulan Muharram

Nabi Muhammad Saw bersabda, "Ibadah puasa yang paling baik setelah puasa Ramadan adalah berpuasa di bulan Muharram."
Meski puasa di bulan Muharram bukan puasa wajib, tapi mereka yang berpuasa pada bulan Muharram akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah Swt. Khususnya pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari 'Asyura.
Ibnu Abbas mengatakan, ketika Nabi Muhammad Saw hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi di Madinah biasa berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Menurut orang-orang Yahudi itu, tanggal 10 Muharram bertepatan dengan hari ketika Nabi Musa dan pengikutnya diselamatkan dari kejaran bala tentara Firaun dengan melewati Laut Merah, sementara Firaun dan tentaranya tewas tenggelam.
Mendengar hal ini, Nabi Muhammad Saw mengatakan, "Kami lebih dekat hubungannya dengan Musa daripada kalian" dan langsung menyarankan agar umat Islam berpuasa pada hari 'Asyura. Bahkan dalam sejumlah tradisi umat Islam, pada awalnya berpuasa pada hari 'Asyuradiwajibkan. Kemudian, puasa bulan Ramadhan-lah yang diwajibkan sementara puasa pada hari 'Asyura disunahkan.
Dikisahkan bahwa Aisyah mengatakan, "Ketika Rasullullah tiba di Madinah, ia berpuasa pada hari 'Asyura dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. Tapi ketika puasa bulan Ramadhan menjadi puasa wajib, kewajiban berpuasa itu dibatasi pada bulan Ramadhan saja dan kewajiban puasa pada hari 'Asyura dihilangkan. Umat Islam boleh berpuasa pada hari itu jika dia mau atau boleh juga tidak berpuasa, jika ia mau." Namun, Rasulullah Saw biasa berpuasa pada hari 'Asyura bahkan setelah melaksanakan puasa wajib di bulan Ramadhan.
Abdullah Ibn Mas'ud mengatakan, "Nabi Muhammad lebih memilih berpuasa pada hari 'Asyura dibandingkan hari lainnya dan lebih memilih berpuasa Ramadhan dibandingkan puasa 'Asyura." (HR Bukhari dan Muslim). Pendek kata, disebutkan dalam sejumlah hadist bahwa puasa di hari 'Asyura hukumnya sunnah.
Beberapa hadits menyarankan agar puasa hari 'Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari 'Asyura. Alasannya, seperti diungkapkan oleh Nabi Muhammad Saw, orang Yahudi hanya berpuasa pada hari 'Asyura saja dan Rasulullah ingin membedakan puasa umat Islam dengan puasa orang Yahudi. Oleh sebab itu ia menyarankan umat Islam berpuasa pada hari 'Asyura ditambah puasa satu hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya (tanggal 9 dan 10 Muharram atau tanggal 10 dan 11 Muharram).
Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadist, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu boleh
dilakukan.

B. Legenda dan Mitos 10 Hari Muharam

Meski demikian banyak legenda dari salah pengertian yang terjadi di kalangan umat Islam menyangkut hari 'Asyura, meskipun tidak ada sumber otentiknya dalam Islam. Beberapa hal yang masih menjadi keyakinan di kalangan umat Islam adalah legenda bahwa pada hari'Asyura Nabi Adam diciptakan, pada hari 'Asyura Nabi Ibrahim dilahirkan, pada hari 'Asyura Allah Swt menerima tobat Nabi Ibrahim, pada hari 'Asyura Kiamat akan terjadi dan siapa yang mandi pada hari 'Asyura diyakini tidak akan mudah terkena penyakit. Semua legenda itu sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam. Begitu juga dengan keyakinan bahwa disunnahkan bagi mereka untuk menyiapkan makanan khusus untuk hari 'Asyura.
Sejumlah umat Islam mengaitkan kesucian hari 'Asyura dengan kematian cucu Nabi Muhmmad Saw, Husain saat berperang melawan tentara Suriah. Kematian Husain memang salah satu peristiwa tragis dalam sejarah Islam. Namun kesucian hari 'Asyura tidak bisa dikaitkan dengan peristiwa ini dengan alasan yang sederhana bahwa kesucian hari 'Asyura sudah ditegakkan sejak zaman Nabi Muhammad Saw jauh sebelum kelahiran Sayidina Husain. Sebaliknya, adalah kemuliaan bagi Husain yang kematiannya dalam pertempuran itu bersamaan dengan hari 'Asyura.
Anggapan-anggapan yang salah lainnya tentang bulan Muharram adalah kepercayaan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang tidak membawa keberuntungan, karena Husain terbunuh pada bulan itu. Akibat adanya anggapan yang salah ini, banyak umat Islam yang tidak melaksanakan pernikahan pada bulan Muharram dan melakukan upacara khusus sebagai tanda ikut berduka atas tewasnya Husain dalam peperangan di Karbala, apalagi disertai dengan ritual merobek-robek baju atau memukuli dada sendiri.
Nabi Muhammad sangat melarang umatnya melakukan upacara duka karena meninggalnya seseorang dengan cara seperti itu, karena tindakan itu adalah warisan orang-orang pada zaman jahiliyah.
Rasulullah bersabda, "Bukanlah termasuk umatku yang memukuli dadanya, merobek bajunya dan menangis seperti orang-orang pada zaman jahiliyah."

C. Bulan Pengampunan Dosa

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Kata Muharram artinya 'dilarang'. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan pertumpahan darah.
Seperti sudah disinggung di atas, bahwa bulan Muharram banyak memiliki keistimewaan. Khususnya pada tanggal 10 Muharram. Beberapa kemuliaan tanggal 10 Muharram antara lain Allah Swt akan mengampuni dosa-dosa setahun sebelumnya dan setahun ke depan.

(Buku Al-Islam)

Wednesday, October 29, 2014

Tol laut di Turki, yang merupakan jalan darat di bawah laut Euro Asia akan menjadi primadona kebanggaan rakyat Turki. Selesai dan berfungsi tahun 2016, tol laut di Turki bukan hanya sekedar wacana tapi sudah menjadi fakta realita. 

Indonesia? Mohon maaf, anda tidak beruntung! Tol laut gagal karena semua sibuk membalikkan meja di Sidang Paripurna.
Malang nian nasib bangsa ini. cobaan bertubi-tubi tapi tak sadar sama sekali. Sepertinya Islamisme phobia mulai merangsek masuk ke otak-otak yang di gerogoti dengan kekaguman; taklid buta.

Ada yang bilang lebih baik tidak berjilbab, merokok, bertatto tapi kerjanya bagus, daripada Berjilbab, tidak bertato, tidak merokok tapi Korupsi 
#hadehtepokjidat

DALIL RELATIVISME, Akibat memuja pluralisme, tanpa sada umat Islam sudah tidak bisa lagi memebadakan mana rufu’ mana ushul, mana tauhid mana syirik, mana yang halal dan yang haram, mana yang haq mana yang bathil, dan ujungnya tak mampu lagi membedakan antara IMAN DAN KAFIR..

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?



Rupanya pertemuan Bapak Jokowi dan Bapak Prabowo, yang juga diikuti dengan Pemilihan Menteri, tidak membuat pendukungnya reda bahkan semakin memuncak. Umat Islam tidak lagi bisa memilah-milah mana yang halal mana yang haram, mana yang haq dan mana yang bathil, Foto diatas dapat diambil hikmahnya. Silahkan fillah yang haq dan bathilnya.

Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “.

(Riwayat Bukhori dan Muslim)

Catatan :

Hadits ini merupakan salah satu landasan pokok dalam syari’at. Abu Daud berkata : Islam itu berputar dalam empat hadits, kemudian dia menyebutkan hadits ini salah satunya.

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

1. Termasuk sikap wara’ adalah meninggalkan syubhat .
2. Banyak melakukan syubhat akan mengantarkan seseorang kepada perbuatan haram.
3. Menjauhkan perbuatan dosa kecil karena hal tersebut dapat menyeret seseorang kepada perbuatan dosa besar.
4. Memberikan perhatian terhadap masalah hati, karena padanya terdapat kebaikan fisik.
5. Baiknya amal perbuatan anggota badan merupakan pertanda baiknya hati.
6. Pertanda ketakwaan seseorang jika dia meninggalkan perkara-perkara yang diperbolehkan karena khawatir akan terjerumus kepada hal-hal yang diharamkan.
7. Menutup pintu terhadap peluang-peluang perbuatan haram serta haramnya sarana dan cara ke arah sana.
8. Hati-hati dalam masalah agama dan kehormatan serta tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan persangkaan buruk. dukung mendukung membuat umat sudah tidak cerdas lagi memilah, mana yang halal dan mana yang haram. Padahal Allah sudah menjelaskankan bahwa yang Halal itu sudah jelas Halalnya dan yang Haram itu sudah jelas haramnya.


Yang Halal ya Halal, Yang Haram ya Haram jangan di gabung-gabung,

JILBAB : Wajib bagi Muslimah, 

TIDAK BERJILBAB : Haram buat wanita muslimah, 
ROKOK : Fatwa MUI haram, ada ulama yg bilang Makruh/mubah, apalagi kalau di tempat umum, 
TATTO : Haram buat Muslim., 
KORUPSI : Haram buat Muslim/Sama dengan mencuri..
Kalau ibu Susi berhasil jadi Pengusaha, mulai dari pengepul ikan dan memiliki 450 pesawat itu the best. apalagi kalau .... he he


Ust Panca Peshawara 

Thursday, October 23, 2014

Seketika, renungan ini hadir terlintas di benak dan menyeruak diantaranya. Tiba-tiba ada bukan karena dipaksakan, melainkan datang bersama semilir angin yang memabukan. Menimbulkan sedikit keresahan, sekaligus kejengahan. Menimbulkan beberapa tanda tanya, sekaligus jawabannya.
            
Waktu dari masa yang lalu turut terlibat, mejelma sebagai bayangan yang tak pernah lalai barang se-detak pun. Kemudian ia berkawan baik dengan karibnya, sebut saja yang bernama memori. Ya, renungan ini berasal dari sepenggal ingatan dari masa kecil saya, dan mungkin juga masa kecil kalian yang sedang membaca kalimat ini.
            
Memori dari satu dekade yang lalu ini hadir menjadi sebuah prespektif. Karena ia bernama prespektif, maka kita diizinkan untuk melihatnya dari masing-masing lensa yang kita miliki, yang juga mungkin berbeda satu sama lain. Perbedaan adalah hal yang humanis, apalagi sesuai dengan judul yang saya berikan 13 baris diatas kalimat ini, tulisan ini hanyalah sekedar renungan. Bukan barisan paragraf-paragraf argumentatif, apalagi persuasif. Maka kalian bebas untuk melihatnya dari lensa yang kalian yakini.

Semakin kita beranjak dewasa, terkadang, bahkan sering, garis yang berada diantara apa-apa yang baik dan buruk itu menjadi kabur. Bukan. Bukan salah garisnya yang kemudian ia menjadi memudar. Garis itu tetap berada ditempatnya dan tak beranjak kemana pun. Yang ada adalah fakta bahwa pengelihatan kita akan garis itu yang menjadi semakin berkurang.
           
Seperti ketika melihat warna hitam pekat, tidak lagi sepekat dulu. Hitam pekat itu mulai kehilangan warna pekatannya. Atau seperti ketika yang seharusnya hitam kemudian menjadi berwarna abu, lalu lama kelamaan ia memutih. Garis yang dulu tegas membatasi antara hitam dan putih, yang dulu tidak membiarkan kedua warna itu melewati masing-masing batasnya, semakin memudar seiring bertambahnya waktu yang berjalan di hidup seseorang.

Rasanya, sewaktu usia TK hingga kisaran SD kelas 2 enggan melakukan kecurangan kecil macam mencontek. “Mencontek itu tidak boleh, mencontek itu dosa,” demikian yang ditanamkan oleh orang dewasa di sekitar. Seandainya pun dalam keadaan terjepit, dan sangat terpaksa melakukan hal curang tersebut, maka setelahnya rasa bersalah menjalar hingga saat tidur pun perasaan gelisah menjelma dalam bentuk mimpi.

Tapi lama kelamaan kata-kata “mencontek itu tidak boleh, mencontek itu dosa,” berubah menjadi sebuah pemikiran “mencontek dosa sih, tapi yang lain juga kok” kemudian berubah lagi menjadi “ mencontek dalam ulangan aja tidak mengapa asal tidak ketauan, berarti PR juga boleh dong” kalimat tersebut berubah berkali-kali hingga seseorang cukup kuat untuk tersadar mengambil sikap yang tepat bagaimana memperlakukan dirinya. Atau bahkan mungkin kalimat tersebut terus – menerus menjadi semakin toleran hingga mengubah seseorang yang ketika kecil sangat enggan mencontek namun setelah dewasa mampu menjadikan dirinya koruptor kelas kakap.

Apakah berarti garis yang memudar itu menandakan keburukan?
Sebuah kemunduran yang di alami satu pribadi dari waktu ke waktu?
Awalnya keyakinan mutlak untuk kata “ya”. Namun selang beberapa detik, kemudian saya tersadar bahwa tidak ada satu hal pun yang mutlak di dunia ini. Mungkin penyebab garis itu memudar adalah karena seiring bertambahnya pengalaman hidup, manusia menjadi terlalu toleran, terlalu tenggang rasa, terlalu memaklumi.
Sebenarnya itu hal baik,bukan?
Hanya saja sebagian manusia kurang cukup bijaksana untuk menempatkan toleransi nya. Ada kalanya kita perlu sedikit mengaburkan “garis”, kadang kala tidak perlu sama sekali, dan disatu waktu bahkan mungkin “garis” tersebut perlu ditiadakan seutuhnya..

Marilah kita merenungi segala yang sudah terjadi yang terasa kurang baik..!!

Created by Kadep. Humas (Khoiruddin)

Ini adalah kisah nyata di Mesir yang diceritakan oleh Syaikh Wahid
Abdussalam Bali dalam sebuah ceramahnya:

Seorang pemuda memanggil taksi untuk mengantarkan ibunya sakit ke rumah sakit. Setelah mereka berdua masuk, sopir taksi membawa mereka ke rumah sakit. Namun, dalam perjalanan, si anak meminta agar taksi berhenti agar ia bisa keluar dan segera mendapatkan obat untuk ibunya.
Saat ia pergi, kesehatan ibunya tiba-tiba anjlok dan Subhanallah , sopir taksi itu melihat tanda-tanda kematian pada perempuan itu. Dia segera beralih ke sisinya dan membimbingnya syahadat (kesaksian iman), sesuai dengan hadits: Barangsiapa yang kata-kata terakhirnya laa ilaaha illallah (tidak ada
Tuhan selain Allah), ia akan masuk surga. [Abu Dawud]. Sang ibu memandang si sopir dan percaya akan hal itu. Akhirnya dia mengucapkankata-kata iman sebelum nafas terakhirnya.

Ketika anak itu kembali, si sopir memberitahukan kabar duka tersebut. Anak laki-laki itu langsung pergi ke sebuah tanah lapang sambil terus menangis, ia hamper saja berteriak histeris. Sopir taksi itu pun mendatangi dan menghiburnya lalu berkata, Jangan khawatir, aku membantunya mengucapkan syahadat dan dia mengucapkannya dengan suara yang jelas. 
Anak itu kemudian berteriak, Apa!!! Mengapa Anda melakukan itu? Tidak tahukah Anda kalau kita adalah penganut Kristen ?!

Subhanallah, keajaiban takdir dari Allah. Anda tidak akan tahu di manakah kematianmu dan kata-kata/ perbuatan terakhir yang Anda kerjakan. (Yang meninggal) itu adalah seorang ibu Kristen Koptik yang sedang menghadapi pergolakan kematian dan Allah menyelamatkannya tepat pada waktunya.

Semoga Allah memberikan kita semua akhir yang baik. Amiin

Tuesday, October 21, 2014


Pidato Politik Khalifah Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu sesaat setelah kaum muslimin berbait kepadanya:
Sesudah mengucapkan Hamdalah dan shalawat kepada nabi, dan setelah menyebut tentang Abu Bakar Shiddiq radhiyallahu anhu serta jasanya, ia berkata :
Saya hanyalah salah seorang dari kalian.
Kalau tidak karena segan menolak tawaran Khalifah Rasulullah -yakni Abu Bakar - saya pun akan enggan memikul amanah ini.
Dia mengucapkan kata-kata tersebut dengan rasa haru, dengan rendah hati dan sangat berhati-hati.
Kemudian umar menengadahkan tangannya secara berkata :
Allahumma ya Allah, aku ini sungguh keras, kasar, maka lunakkanlah hatiku
Allahumma ya Allah, saya sangat lemah maka berilah kekuatan
Allahumma ya Allah,aku ini kikir maka jadikanlah aku orang yang dermawan dan bermurah hati
Umar berhenti sejenak, hingga orang-orang tenang kembali dan melanjutkan:
Allah telah menguji kalian dengan saya, dan menguji saya dengan kalian.
Sepeninggal sahabatku, sekarang saya berada di tengah-tengah kalian.
Tak ada persoalan kalian yang saya harus saya hadapi lalu diwakilkan kepada orang lain selain saya.
Dan tak ada yang tak hadir disini lalu meninggalkan perbuatan terpuji dan amanat.
Kalau mereka berbuat baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau melakukan kejahatan, terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka
Wahai umat Muhammad, Saya telah diangkat sebagai pemimpin kalian. Seandainya tidaklah didorong oleh harapan bahwa saya menjadi orang yang terbaik di antara kalian, orang yang terkuat bagi kalian, dan orang yang paling teguh mengurusi urusan-urusan kalian, tidaklah saya menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan”.
Coba renungkan ucapannya: “ Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan”.
Pikiran tokoh ini benar-benar tertuju pada kalimat yang akan ditanyakan Allah kepadanya nanti di hari perhitungan dan jawaban yang akan dia ucapkan dihadapan Allah. Baginya, kehormatan tidak terletak pada pangkat atau kedudukan, tapi pada keberhasilan merebut keridlaan Allah.
Harapan yang dinanti-nanti oleh Umar adalah pengampuan dari Allah. Jabatan, kekuasaan, ketenaran, pengaruh, kesenangan dan kemewahan yang ada di sekitarnya, dianggapnya sebagai ujian. Ia senantiasa memohon kepada Allah agar dapat melaluinya dengan baik dan selamat.
Umar telah membuatnya melewati hari-hari dia menjabat sebagai khalifah di bawah tekanan yang perasaan takut kepada pertanyaan Rabbnya. Dia melalui hari-harinya dengan hati yang gemetar, bukan senang. Pernahkah ada orang di belahan bumi ini, baik di timur dan barat, mendengar seorang raja yang pangkat dan kekuasaannya berdiri megah, tapi semuanya justru merupakan siksaan yang perlu dihindari sebisa mungkin, bahkan kalau bisa, akan melarikan diri darinya ..
Dan apa yang beliau ucapkan di hari pertama pelantikannya terimplementasikan dalam seluruh hari hari yang dilaluinya sampai beliau menghadap Rabbnya dalam kondisi ridha dan di ridhaiNya
Jangan bandingkan dg para pemimpin penipu yang kerjanya cuma menyusahkan dan menyengsarakan rakyatnya .

Ingat waktu

Categories

Comments

Pages

Selamat Anda Pengunjung ke

Popular Posts

Hikmah Bersaudara

facebook